Belajar & BelAjar

Fatwa Ulama Salaf

Khuruj di Jalan Alloh

Artikel ini di ambil dari dialog tanya jawab dengan Syaikh M.Nashiruddin Al-albani Rahimahullah, yang tersusun dalam buku fatwa beliau Rahimahullah, denga judul asli “Fatawa Asy-syaikh Al Albani wa Muqaranatuha bi Fatawa Al Ulama” Di susun oleh: Ukasyah Abdul Manan Athaiby.

penanya: apabila ada sekelompok manusia melakukan khuruj (keluar), sementara diantara mereka ada yg berilmu ataupun penuntut ilmu lalu selebihnya adalah orang awam yg bodoh maupun pelku kemaksiatan, namun mereka ingin mengambil manfaat; baik berupa ilmu, penyucian jiwa maupun menambah keimanan. maka apakah kita mengatakan bahwa perkara ini tidak diperbolehkan? atau apa yang mesti kita katakan mengenai hal itu?

Al Albani: apabila anda berada pada batas-batas pertanyaan respon sebagai realita, maka itu ada jawaban tersendiri. namun apabila yang anda maksudkan dengan pertanyaan ini untuk melegitimasi realita, maka terdapat jawaban yang lain pula. lalu mana yang anda maksudkan?

penanya: perkataan syaikh belum jelas bagiku.

Al albani: aktivitas khuruj (keluar) yang dikenal zaman (sekarang) ini, dimana seseorang keluar dari india atau cina misalnya dan aku tidak tahu hendak kemana dan untuk apa mereka datang ke negeri-negeri Islam yang lain, apakah itu yang anda tanyakan ataukah sekedar khuruj (keluar) yg biasa terjadi?

penanya: inilah yg aku maksudkan.

Al albani: khuruj dalam pengertian yg terakhir ini?

penanya: benar

Al albani: Inilah yg aku tanyakan kepadamu. Untukitu aku katakan, tidak. sesungguhnya khuruj dalam pengertian yg kedua senantiasa ada disetiap masa dan disegala tempat. bukankah benar demikian?

penanya: benar

Al Albani:Oleh sebab itu terdapat perbedaan antara permasalahan yg anda tanyakan, yang mana jawabannya adalah boleh. aku katakan kepadamu bahwa praktik seperti itu telah ada dan disyariatkan. namun praktik yang benar ini tidak dapat kita jadikan alasan untuk membenarkan khuruj yang sekarang kita kenal dan perbincangkan. mengapa demikian? karena kita berdua telah sepakat bahwa khuruj dalam pengertian terakhir–yang telah kita sepakati kebolehannya–telah ada sebagaimana telah aku katakan terdahulu, yaitu terdapat pada setiap zaman dan setiap tempat. akan tetapi, khuruj seperti yg kita kenal saat ini tidak mempunyai sumber pada semua periode (abad-abad) Islam yg lampau. jika demikian maka tidak diperbolehkan.

penanya: mengapa kita tidak mengatakan bahwa khuruj yang telah kita sepakati kebolehannya, merupakan sumber bagi lahirnya khuruj yg kita kenal saat ini?

Al Albani: Tidak sama sekali……Subhanallah! demikianlah yg sering mereka katakan. oleh karena itu, aku akan mengajakmu memperhatikan duduk persoalannya. Perkataan seperti itulah yang telah melandasi munculnya bidah si zaman ini ataupun sebelumnya. mereka senantiasa menghadapkan kepadamu dalil-dalil yg bersifat umum, dimana dalil-dalil yg bersifat umum tersebut tidak mencakup kejadian-kejadian khusus ini. untuk itu, marilah kita ambil satu contoh sangat sederhana mengenai hal ini.

Mereka berkata “mengapa kalian mengingkari shalawat kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam selesai adzan, bukankah shalawat kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam selesai adzan itu tercakup di dalam firman Alloh SWT, “Bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam sejahtera” (QS.Al Ahzab (33):56) atau bukankah perbuatan itu tercakup dalam sabdanya, “barangsiapa yg bershalawat kepadaku satu kali, maka Alloh akan bershalawat kepadanya sepuluh kali”.

jawabannya tentu saja tidak wahai saudaraku, sebab adzan adalah sesuatu yg disyariatkan. Lalu telah disertakan padanya sesuatu yg tidak pernah dipraktikan pada masa-masa sebelum kita, yang diakui penuh kebaikan.

demikian pula berdalil dengan sebagian nash yg bersifat umum terhadap praktik yg sedang marak sekarang ini, ini merupakan suatu kesalahan fatal. Namun mengapa demikian?

khuruj yg kita temukan saat ini, pastilah tidak ada seorangpun yang masih memiliki akal mengatakan bahwa hal itu ada pada abad abad terdahulu. bukan hanya tidak terdapat pada generasi pertama, bahkan tidak ditemukan sepanjang abad perjalanan Islam. Praktik seperti ini tidak lain hanya muncul di zaman itu, dan itu tidak diragukan lagi. dari sini, maka berdalil dengan persoalan-persoalan umum merupakan kesalahan. Janganlah melupakan standar penilaian, “segala kebaikan hanya terdapat pada mengikuti kaum salaf”.

mungkin anda masih ingat apa yg telah aku katakan terdahulu, bahwasanya khuruj di jalan Alloh taala tidak diragukan telah ada sejak dahulu. namun yang perlu di pertanyakan adalah, “apakah praktik khuruj di jalan Alloh Ta’ala seperti yg kita kenal saat ini juga ada sebelum kita?”

Penanya: Dalam bentuk seperti yg kita kenal saat ini, apakah memang belum pernah ada sebelumnya?

Al Albani: demikianlah kenyataanya.

Penanya: Kita qiyas-kan kepada asasnya. yakni aku ingin menanyakan kepadamu satu pertanyaan, “Apakah para sahabat radhiyallahu anhum, seperti Ibnu Abbas yg dikenal sebagai penulis ahli di bidang tafsir, pernah duduk seperti keadaan anda sekarang di perpustakaan ini?

Al Albani: Demi Alloh, tentu saja tidak pernah. Anda telah menghabiskan sekian waktu untuk memaksakan diri demi melegitimasi khuruj, mengapa demikian? untuk itu aku katakan, janganlan anda menerima begitu saja, akan tetapi cermati setiap dalil yg ada. keluarnya seseorang dalam rangka melarikan diri dari negeri orang-orang fasik lagi bermaksiat kepada negeri yg dihuni orang-orang shalih, apakah kita meng qiyas kan (analogi) dengan keluarnya kaum muslimin dari negeri mereka yg baik ke negeri orang-orang fasik lagi berbuat dosa, seperti amerika atau Inggris? apakah kedua hal itu dapat di-qiyas-kan? subhanalloh!

Ibnu Hazm–seorang pembesar Ulama Andalusia-biasa diberi gelar Azh-Zhahiri disebabkan beliau berpatokan pada makna-makna lahir suatu nash dengan cara yg kaku. (akan tetapi kita saat ini bukan hendak membahas hal itu). disebabkan sikapnya yg kaku, maka beliau mengingkari qiyas dan menyalahi pandangan mayoritas ulama lain. Padahal Qiyas hakikatnya adalah sumber hukum keempat. mungkin anda masih ingat bahwa sumber hukum itu adalah; Al Qur’an, Sunnah, Ijma dan Qiyas.

Sumber hukum yg paling rumit diantara sumber hukum tersebut adalah qiyas, karena permasalahannya sangat kompleks. Tidak semua orang mmapu untuk melakukan qiyas. aku katakan kepadamu secara terbuka, bahwa aku hidup di sepanjang zaman kita ini; khususnya bersama saudara-saudaraku yg kudapati pada mereka keikhlasan di mana Anda adalah salah seorang diantara mereka insya alloh.

Aku katakan kepadamu, aku tidak mendukungmu melakukan qiyas. bagi seorang yg ingin melakukan qiyas, maka caranya tidak seperti ini. Perkataan tadi bukan berasal dari dirimu, akan tetapi muncul dari selainmu. Oleh sebab itu, hendaklah engkau berpikir”.

sebagai bukti kerumitan qiyas, maka para ulama menempatkannya pada urutan keempat, sementara Ibnu Hazm mengingkarinyanya secara total. akan tetapi yg menarik bagiku adalah ungkapan beliau saat menanggapi orang-orang yg membolehkan qiyas. Tampak beliau menanggapi dengan ungkapan berindikasi pembenaran. Beliau mengatakan, Qiyas bukan ditempatkan sebagai timbangan dan ukuran.

Qiyas sangatlahjauh dari kebenaran. sebagai contoh; misalnya aku tumbuh dalam lingkungan madzhab Hanafi. Dalam madzhab ini terdapat pendapat bahwa jika seseorang berbicara saat shalat secara tidak disengaja, maka shalatnya dianggap batal. adapun dalilnya adalah di-qiyas-kan dengan orang berbicara dengan sengaja saat shalat. Allahuakbar! Sungguh ini adalah qiyas sesuatu perkara dengan sesuatu yg menjadi lawannya, dimana orang yg melakukan dengan sengaja disamakan hukumnya dengan orang yg melakukan secara tidak sengaja. Lalu, apa komentar Ibnu Hazm menghadapi pandangan dan pendapat demikian? Beliau mengatakan, “Qiyas semuanya adalah batil.Andaikata ada yg benar, maka itu juga merupakan bukti kebatilan qiyas itu sendiri”. Artinya wahai saudaraku, qiyas sama sekali bukanlan perkara yg mudah.

Para ulama Najed adalah ulama terhormat dan merupakan ulama terbaik yg ditemukan saat ini diseluruh negeri kaum muslimin. meski demikian, terdapat beberapa pendapat mereka yg tidak sejalan dengan pandangan kami. sebagai contoh, anda telah mengetahui bahwa mereka meletakan tangan tangan mereka diatas dada setelah berdiri dari ruku. Apakah hujjah mereka dalam hal itu? Tentu saja mereka memiliki hujjah.

mereka mengatakan bahwa rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bila berdiri dalam shalat, maka beliau biasa meletakan tangannya yg kanan diatas tangan kiri. peryataan “Bila berdiri saat Shalat” merupakan perkataan yg benar. Lalu bagaimana pendapatku? aku katakan, dalil yg mereka kemukakan tidak dapat dijadikan alasan, meski aku setuju dengan mereka bahwa hadits tersebut derajatnya sahih. Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam apabila shalat biasa meletakan tangan kanannya di atas tangan kiri. Benarlah demikian, dan ini adalah hadits sahih.

akan tetapi berdiri setelah bangkit dari ruku, adakah dalil yg menyatakan Nabi shalallohu ‘alaihi wasallam meletakan pula tangan kanannya diatas tangan kiri? Sebab, dalil yg dikemukakan di atas pertama kali ditujukan untuk menerangkan keadaan berdiri sebelum ruku. aku rasa, hingga disini cukup jelas.

Lalu seseorang tidak dapat berkomentar, “wahai saudaraku, dalil di atas merupakan keterangan yg bersifat umum, mencakup keadaan berdiri sebelum ruku danmencakup pula keadaan berdiri setelah ruku”.sebab kami mengatakan, “Telah dinukil sejumlah keterangan yg mengatakan bahwa rasulullah shalallahu ‘alihi wasallam biasa meletakan tangan kanannya diatas tangan kirinya pada saat berdiri sebelum ruku. maka adakah satu dalil yg menyatakan bahwa rasulullah shalallahu ‘alihi wasallam juga meletakan tangan kanannya diatas tangan kirinya saat berdiri setelah ruku? Dalil mengenai hal itu tidak ada sama sekali. Jika demikian, dalil yg bersifat umum tersebut tidak dapat dijadikan sebagai dalil bagi amalan khusus tadi.

aku akan menyederhanakan persoalan dengan suatu contoh yg belum terjadi, namun aku khawatir kelak akn menjadi kenyataan. apabila sekelompok orang masuk masjid pada waktu zhuhur. Salah seorang diantara mereka hendak shalat sunnah di bagian timur masjid, yang satu di bagian barat masjid, dan seterusnya. lalu salah seorang mereka berseru, “wahai saudara-saudaraku, mari kita laksanakan shalat sunnah ini secara berjamaah, Rasulullah bersabda, “Tangan Alloh bersama jamaah”. Berdasarkan Hadits ini, maka biarlah kita melaksanakan shalat sunah qabliyah berjamaah.” Mungkin saja orang ini memperkuat pendapatnya dengan hadits kedua, ” shalat berjamaah lebih utama dari pada shalat sendiri dengan dua puluh lima atau dua puluh tujuh kali derajat” atau mungkin diiringi lagi dengan hadits ketiga, “shalat dua orang lebih baik daripada shalat sendirian, dan shalt tiga orang lebih baik daripada shalat dua orang”” dan seterusnya. Hadits-hadits tersebut derajatnya sahih, akan tetapi cara penetapan hukum darinya tidaklah benar.

Tapi, bagaimanakah kita harus membantah argumentasi mereka wahai ustadz? Yaitu, mereka yang mengajak melakukan shalat sunnah secara berjamaah. Tidak ada pada kita satu hadits pun yang menyatakan, “janganlah kalian shalat sunnah qabliyah secara berjamaah”. memang benar hadits seperti itu tak ada pada kita. namun, apakah yang menjadi landasan kita? mari kita perhatikan baik baik.

Penanya: Apakah para sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan yang demikian?

Al Albani: Jawabannya tentu tidak pernah

Penanya: Lalu apakah para sahabat memahami hadits-hadits tadi dengan pemahaman yg benar?

Al Albani: Jawabannya, pasti mereka telah pahami dengan sebenarnya.

Penanya: Jika demikian, apakah pemahaman mereka sama dengan pemahaman anda?

Al Albani Tidak. sebab andai jawaban disini adalah “ya”, masih dapat disusul dengan pertanyaan berikutnya, “Apakah mereka tidak menerapkan apa yang mereka pahami, hingga anda muncul melengkapi apa yg kurang dari mereka. sebab disiniAnda telah sama dalam pemahaman namun melebihi mereka dalam hal pengalaman”.

contoh ini-semoga Alloh memberkahimu-memberikan penjelasan bahwa segala perkumpulan yg tidak pernah dipraktikan oleh kaum salaf dimasa terbaik, (maka hal itu tidaklah benar-pent). Sama seperti orang tadi yg telah menyebutkan tiga jalur periwayatan dengan tiga hadits. Akan tetapi cara penetapan dalil dari hadits-hadits tersebut tidaklah benar, sebab kaum salaf tidak pernah melakukannya.

Sesungguhnya meng-qiyas-kan satu keadaan dengan keadaan lain merupakan perkara yg sangat sulit, khususnya bila berbenturan dengan dengan kehidupan masyarakat generasi pertama.Sebab, disana terdapat hal-hal yg telah berubah sejak berlalunya tiga generasi pertama. akan tetapi-Alhamdulillah- disana terdapat pula beberapa perkara yg masih saja kita pelihara dengan baik, dimana tidak ada perbedaan antara kita dengan kaum salaf dalam masalah itu.

sebagai contoh, pelaksanaan shalat lima waktu di masjid-masjid. perbuatan ini telah diterima kaum muslimin dengan cara diwarisi dari generasi terdahulu. Namun disana terdapat pula beberapa perbuatan yg dilakukan generasi penerus (khalaf) yg tidak pernah dilakukan oleh generasi terdahulu (salaf).

dari sini, maka aku ingin menekankan pada permasalahan ini sebagai berikut: Berdalil dengan nas-nash, dengan tidak mengikuti sebagaimana yg dipraktikan kaum salaf, merupakan kesalahan yg telah membuka dihadapan kita bid’ah yg sangat banyak dan kita pun sepakat mengingkarinya. Kemudian para pendukungnya menghadapkan dalil-dalil kepada kita, sama seperti dalil yg kita jadikan landasan bagi apa yg kita lakukan. demikian pula persoalan khuruj di jalan Alloh, seperti yg kita kenal saat ini.

Akan tetapi kadang seseorang mengatakan, “Wahai ustadz, apakah anda tidak sependapat denganku bahwa kita kembali kepada suatu perkara yg kita sepakati, dimana anda telah menyebutkannya dan kami pu tidak mengingkari; yaitu kenyataan bahwa banyak manusia yg merubah kehidupannya menjadi lebih baik karena khuruj tersebut?

Sebagai tanggapan, aku akan mengajakmu memperhatikan kenyataan lain, yaitu dimana terdapat sejumlah manusia-baik sebagai ahli ilmu maupun selain mereka -yang keadaan mereka demikian baik tanpa pengaruh khuruj yang anda maksudkan. Apakah anda tidak sependapat pula denganku, bahwa salah seorang dari mereka- yg umumnya adalah orang awam- harus keluar. atau dengan ibarat yang lebih jelas, sebagian mereka harus menjauh dari negeri serta keluarga dan seterusnya. Bukankah lebih baik mereka untuk tetap tinggal di negeri mereka sebagai suatu jamaah, lalu berkumpul dalam suatu majelis di mesjid-mesjid untuk mempelajari Al Qur’an ataupun fikih. Bukankan yg demikian itu jauh lebih baik dari pada khuruj?

Penanya: Ini adalah pendapat yg baik.

Al Albani: Oleh sebab itu, aku menasihatkan kepada mereka yg khuruj, diman aku mengetahui dengan baik bahwa mayoritas mereka tidak menginginkan balasan atau pamrih. akan tetapi, seperti dikatakan:

Sa’ad menuntunnya sedang ia berselimutkan kain

Bukan demikian wahai Sa’ad cara menuntun unta

Kepada mereka yg ikhlas itu kami hadapkan ucapan ini, dan juga kepada semua jamaah yg bersama mereka. Orang-orang yg ikhlas itu hendaknya saling menyeru untuk mendapatkan seseorang yg mengajari mereka Al Qur’an, misalnya ilmu Tajwid dengan diselenggarakan di mesjid-mesjid yg merupakan rumah2 Alloh. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallalu alaihi wasallam. “Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah di antara rumah rumah Alloh, dengan membaca Al Quran dan mempelajarinya diantara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat dan dikelilingi para malaikat serta disebut oleh Alloh dihadapan mereka yg berada di hadirat Nya”.